Monday, March 20, 2006

Welhadalahh...!!

repotnya masak-memasak

Kegiatan masak memasak memang sebuah kegiatan rutin yang mengasikkan meski terkadang disaat kejenuhan menyerang keinginan memasak menjadi hilang sama sekali. Dan kalau malas sudah menyerang maka hunting makanan menjadi suatu kegiatan yang cukup menyibukkan dan membingungkan.Kebingungan yang dimaksud apalagi kalau bukan soal pemilihan jenis makanan....

"Hari ini mau masak apa ya....?" kata2 ini biasa terdengar dipagi hari.... karena memang ibu2 hobinya bingung soal masakan.Kemaren sudah daging, kemarinnya lagi ayam,kemarin kemarinnya lagi sea food....trus hari ini..??...apa ya...?? wehh...garuk2 kepala akhirnya.Kebingungan soal memilih menu masakan bukan monopoli ibu2 yang hobi memasak,berburu masakan matang pun bukan perkara mudah untuk mencegah kebosanan terhadap rasa masakan.Jika hari ini Maju Garuda....esoknya Wisma Sentral menjadi sasaran...esoknya lagi Medan selera...besoknya...apa yaa??..wehh...yang inipun garuk2 kepala.....bingung juga kan.??

Karena tiap hari berkutat pada soal masakan dan kewajiban pada pemenuhan kebutuhan hidangan yang harus selalu siap tersaji dimeja makan, sangatlah wajar jika terkadang dilanda kebosanan untu urusan satu ini. Berbeda dengan orang2 yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah menyentuh kehidupan dapur, perkara masak-memasak akan menjadi suatu kegiatan yang 'exited'.

Hari Sabtu kemaren ketika asik2nya beduaan dimobil dengan suamiku menuju Sepang untuk nonton balapan Formula, aku dibuat kaget oleh anakku sulung dengan kiriman pesan singkatnya..."mah telpon rumah dong.."
"Wah..ada apa gerangan..jangan2 ada masalah" gitu pikirku...."Ada apa Ca..."
" Biasa mah...di 'guide' dong soal pembuatan ayam bakar dengan sos barbeque" sahutnya dari sono enteng.
"woalaahh...tak pikir ada apa ...bikin mama deg2an.." Dan mulailah aku meng-'guide' mengenai pembuatan ayam bakar.
" Jadi sos bbq nya berapa gejrotan mah...oo..4 gejrotan yaa...digejrot dengan tenaga penuh atau sedang2 aja...lhah..ini botolnya baru je...ntar kalo dengan tenaga penuh keluarnya kebanyakan....oo..gitu ya...kira2 aja..sip deh!! ntar Ica coba dulu.." Begitulah percakapan lewat telponsel-ku berlangsung.Setelah telpon kututup baru kusadari kenapa dia bingung soal ukuran berapa banyak sos yg harus diberikan untuk masakannya...lha cuma pakai kata2 gejrotan...sebagai alat ukur memang tidak tepat !!
Esok paginya anakku ini kirim pesan singkat lagi..."mah ayam bakarnya sukses besar...gak ada yg percaya kalau ica yg masak,kata teman2..huueennaakk..padahal nyuci ayamnya pake air hujan lho...hik..hik.."
Wesshh..bocah ini ngawur aja....tapi hebat cah bagus...lha hobi main bola kok jadi koki...jelas aja teman2mu gak percaya...

Adek selalu ingin mengikuti jejak kakak.Begitu juga dengan si bungsu, wweehh..aku ikut stres kalau dia minta masak sendiri...cuma mau menggoreng telur dadar hebohnya minta ampun... apalagi ketika pertama kali pengen mencoba memasak dia masih berumur 9 th. Kekuatan memegang wajan dipadu dengan gerakan tangan kanan yg harus memegang "sothil"(alat untuk menggoreng) menjadikannya ribet karena tinggi badan belum memenuhi syarat untuk berdiri didepan kompor sebagai 'chef"... hingga mengharuskan kakinya agak 'jinjit' sedikit..
Waah..tapi bagi Adek keributan didapur ini merupakan pengalaman hebat hingga dengan PeDe bisa bercerita dengan temannya...."Aku udah bisa masak telor dadar looh...bikin indomi juga bisa" gitu ceritanya bangga sambil jongkok dipinggir lapangan menunggu pertandingan futsal dimulai.

Pernah suatu saat ketika aku di Jakarta yayank-ku kirim pesan singkat dari Brunai....
" nduk...kayaknya garam Brunai lebih asin dibanding garam Indo ya.."...Lho..kok??....
"lha iya to.. 3 hari berturut-turut bikin telor dadar kok selalu gagal...asiiiinnn..." gitu keluhnya.
"garam dimana-mana sama to kang...itu garamnya ke'dlodok' alias terlalu banyak.."
Naah..begitu aku menyusulnya kesana, rasa penasaran tentang pemububuhan garam ketebus....wooo....jebul garamnya cuma 'seciprit' ya....pantesan asin!! he..he..he...

Memang kegiatan masak memasak ini bisa menjadi sebuah kegiatan menantang, karena meski terlihat sepele seputar masakan akan menjadi faktor utama dalam penentuan sukses tidaknya sebuah acara yang melibatkan tamu2 penting.Apalagi peluang bisnis terbentang lebar disana, dengan semakin sibuknya anggota keluarga dimana ayah dan ibu bekerja sedangkan gaji pembantu mahal maka urusan lauk pauk tinggal beli atau pesan hantar atau malah berlangganan pengusaha catering.Kini masak-memasak adalah sebuah seni yang semakin berkembang dan ramai diminati bukan hanya untuk memanjakan lidah keluarga tercinta tapi sebuah profesi bisa tercipta.

Aku jadi teringat pesan eyang putriku.."perempuan harus pandai memasak minimal bikin sambal, karena cinta suami berawal dari perut..." begitu selalu kata beliau.Wallahualam.....

2 comments:

wiwit said...

Hahaha seru ceritanya, Mbak. Terutama kalimat penutupnya. Saya anak lelaki bontot dari 2 kakak perempuan. Saya juga ingat wanti2x ibu saya kepada kedua kakak perempuan saya : " Boleh marahan sama suami. Satu hal yang harus diingat. Tetap sediakan makan buat suamimu ... "

pri said...

menurutku tulisan mbak yuyun ini laku kalau dijual ke KR nggantiin jenatnya pak Kayam, top tenan