Monday, July 24, 2006

Mcckk... giliran lampu mati....

'oglangan'

Hari ini rencana balik kampung, tiga hari pertama ke Jakarta dilanjutkan menikmati liburan 2 minggu di Yogyakarta. Harusnya aku berteriak YesS!! kembali menghirup udara panas negaraku...
Tapi kali ini Yess-nya kurang bersemangat jadi bunyi yang keluar adalah yyyeeess...
Lho kok lemes ? harusnya kan gembira...
Gimana mau gembira, lha wong ke Jakarta cuma beberapa hari aja ternyata ada berita giliran pemadaman listrik. Wah nggak seru....

Piye to PLN ini ? aku pikir kekacauannya udah 'sembuh' setelah beberapa waktu lalu lilin menjadi andalan penerangan disaat malam datang. Aku jadi teringat masa di Sekolah Dasar, ketika itu sangat biasa jika rumah tidak mendapat pasokan listrik setiap hari hingga istilah 'oglangan' atau 'giliran' menjadi akrab ditelinga. Dan jika pas hari itu terbetik berita bahwa malam ini hanya lampu 'teplok' yang akan menerangi rumah, anak-anak akan ramai berteriak "giliraaannn.." sembari pulang menuju rumah masing-masing selepas bermain disore hari.
Pagi harinya bangun dari tidur sambil cekikikan anak-anak ini segera menuju kaca untuk melihat lubang hidungnya yang hitam akibat jelaga lampu 'teplok'.
"Hik..hik...hidungmu hitam...kamu juga..hik..hik.." begitu anak2 saling menunjuk temannnya..
Dimasa itu pemadaman lampu secara bergiliran memang tidak terasa beratnya, masyarakat masih maklum dengan keterbatasan yang ada dan semua dijalani secara apa adanya serta tidak mengada-ada.

Pastinya akan sangat berbeda jika dilakukan saat ini dimana semua sudah sangat tergantung pada PLN, tidak ada pasokan listrik mengakibatkan kerugian tidak sedikit. Selain urusan rumah tangga terbengkalai, aktivitas pabrik juga terpaksa berhenti untuk sesaat, kantor-kantor menjadi tempat sauna karena AC tak berfungsi, akan lebih mengesalkan jika listrik mati tapi file belom di'save'....hu..hu...bakalan nangis bombay..... wwaaa.....gimana neehh ilang semuaaa....

Memang sedih melihat kenyataan ini. Jika dibandingkan dengan Malaysia tarif listrik kita jauh lebih mahal, jadi otomatis penggunaan akan lebih berhati hati jika nggak ingin dana bulanan kebobolan hanya untuk listrik tok!
Bayangin aja, di KL dengan mengeluarkan 200an rm per bulan atau 500 ribuan jika dikurs, aku nggak pernah punya pikiran untuk ngirit penggunaan listrik, AC dipasang setiap diperlukan dan nggak pernah 'njeglek'. Itu setara dengan penggunaan satu AC saja dan hanya dipasang disaat akan tidur jam 10 malam di Jakarta.

Yah..mudah-mudahan ketidak nyamanan ini akan segera berakhir berganti dengan tatanan yang lebih bersih dan semestinya, hingga semuanya akan kembali menuju kepada apa yang selama ini kita idam-idamkan. Masak sih, bukannya tambah canggih tapi kok malah kembali ke 'jadul' ?

Dan doaku lagi...mudah-mudahan selama aku di Yogya tidak ada awan vertikal yang menampakkan diri.....Amiiiienn....

4 comments:

-tikabanget- said...

Knapa sih kok ada pemadaman listrik?
Curiga gw ama PLN..

Anonymous said...

emang PLN knapa gitu ?

Muhammad Mufti said...

Yah, begitulah Indonesia Mbak. Tak perlu heran dan kaget...! Monopoli listrik kok malah rugi (sing omong rugi PLN dhewe lho!!)Salam kenal saking wong Jogja.

bank al said...

emang tinggal di mana sih mbak ? kok masih ada mati lampu ? :P