Tuesday, February 07, 2006

Nonton Konser Dream Theatre


Berawal ketika anakku sulung ingin menyaksikan pertunjukkan konser rock progresif Dream Theatre di Jakarta. Entah kenapa group band itu gagal manggung di Jakarta, yang pasti anakku kecewa berat karena rencananya liburan semester dia mau hunting ke Jakarta dilanjutkan ke Kuala Lumpur setelah genap enam bulan dia sibuk berkutat dengan diktat2 kuliahnya di Yogya

Ternyata group band ini akan manggung juga di Singapore karena negri singa ini memang merupakan negara terakhir dari beberapa negara di Asia yang mereka kunjungi dalam rangka 20th Annyversarynya. Tanpa mikir mumet2 suamiku booking tiket lewat internet untuk anakku sulung yang akan segera datang ke KL. Kebetulan 27 Februari harinya Dream Thetre manggung nyambung dengan liburan Gong Xi Fachai, 1 Muharam dan hari Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur sehingga jadilah very long long week end dimana sibungsu dan suamiku juga bisa menikmati liburan.
Alhasil Jumat pagi 27 Februari kami berempat menuju Singapore dengan menggunakan jasa angkutan Aeroline Bus yang nyaman , sehingga waktu tempuh 5 jam tidak menyisakan kepenatan.

Pukul 8 malam konsert dijadwalkan start, sehingga 6.30 pm pun kami bersiap menuju Singapore Indoor Stadium. Seperti dugaanku anak2 muda berkostum hitam2 dipadu dengan celana jean bertebaran dimana-mana, aku cukup heran dengan sikap calon2 penonton yang tampak santun tidak seperti bayanganku karena mengidentikkan rock dengan kebrutalan...rock man!!..Bungsuku yg semula takut untuk nonton konser rock karena dibenaknya memang tergambar kekasaran akhirnya beli tiket juga untuk melihat secara langsung gebukan drum si Portnoy.

Tak kusangka ada teman dari KL dan Brunai yang ternyata juga akan ikut menyaksikan show ini. Aku dan suamiku yang semula ragu2 untuk ikutan nge-rock akhirnya goyah juga.

Budaya jam karet ternyata sudah menular ke negara tetangga. Konser yang dijadwalkan jam delapan molor hingga jam 9. Tapi aku heran lagi, penontonnya kok tetap duduk manis dan sesekali mereka bertepuk tangan pada setiap akhir lagu Dream Theater yang diputar melalui CD selesai.

Teriakan gemuruh, tepukan tangan,tak terbendung lagi ketika jam 9 teng group band yang mempunyai personil 4 orang setengah baya itu tampil, dan barisan penonton yang semula duduk rapi seketika buyar bergerak serempak maju berjingkrak2 didepan panggung.

Malam itu dengan skill yg tinggi disertai teknik vokal prima Dream Theatre berhasil menggoyang Singapore Indoor stadium. Aku masih tetap berdiri kagum ditempatku menyaksikan kekompakan group band yang masih solid meski sudah menapaki usia ke 20, dan ditempatku berdiri inilah aku juga mengamati asiknya anak2 muda jejingkrkan, pakdhe-pakdhe, pria berjas perlente dg membawa laptop, serta eksekutif muda yang tak mau ketinggalan menggoyang2kan badan serta kepalanya mengikuti nada2 keras menghentak terkadang juga diselingi dengan lagu2 slow rock.

Pukul 12 malam konser berakhir dengan lagu Pull Me Under dan Metropolis yang dibawakan secara medley...kompak banget, konserpun berakhir manis tanpa diwarnai keributan, tanpa desak2an, dan tanpa umpatan2 kasar.

Musik memang world wide, tidak mendiskriminasikan golongan manapun, tidak mengenal usia, tidak membedakan jenis kelamin maupun jenis pekerjaan.Bahkan musik rock yang dikenal sebagai musik cadas dan terkesan keras, brutal, dan kasar ternyata bisa mendamaikan dunia.

2 comments:

Ecky said...

Aku juga nonton DT manggung di Sing, mbak. Kok waktu itu ndak lihat embak ya/ Tks. Btw, bagus juga blognya. Ecky

Tasik Progressive said...

ku cukup heran dengan sikap calon2 penonton yang tampak santun tidak seperti bayanganku karena mengidentikkan rock dengan kebrutalan...rock man!!..

Jadi teringat istriku pernah bilang begini "TAMPANG METAL HATI MAKKAH" hik hik....

kalo saya hanya impian saja nonton DREAM THEATER.... kapan ya bisa jadi kenyataan sedih .....