Tuesday, December 15, 2009

How lucky you are ....as always..

How lucky you are... as always...
Perkataan itu membuat aku sedikit tergugu, membisu dan sedikit ragu-ragu. Benarkah aku memang seberuntung itu...?
Atau karena dia tidak memperoleh seperti yangg aku rasakan saat ini, sehingga dia berkata seperti itu.

Dalam menjalani kehidupan ini sejatinya orang memang saling 'sawang sinawang' alias saling memperhatikan satu sama lain. Rasanya sangat manusiawi jika kita memandang orang lain 'sepertinya' mempunyai kehidupan lebih baik. Apa yg tidak kita punya biasanya menjadi tolok ukur kenapa orang lain menjadi terlihat lebih. Tapi sayang kita sering tidak adil karena terkadang melupakan sesuatu yg menjadi kelebihan kita adalah sebagai suatu keberuntungan.

Seandainya saya jadi seorang wanita bekerja mungkin suatu saat saya juga akan berfikir bahwa menjadi ibu rumah tangga asik juga, punya banyak waktu untuk diri sendiri serta bisa mengurus plus memperhatikan perkembangan anak dengan seksama. Sebaliknya ibu rumah tanggapun akan berfikiran sama, dengan bekerja tidak hanya materi yg diperoleh tetapi juga kepuasan karena lebih merasa berguna untuk sesama.

Ah..kamu memang kurang bersyukur !
Seringkali hati nurani berkata begitu. Namun semakin sering hati kecil itu menyapa, sesering itu pula logika menyela.

Tidak semua orang bisa memperoleh yang diinginkan, karena itu tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Lagi-lagi nurani berkata, dan lagi-lagi logika mengelak.

Kenapa ya manusia susah untuk bersyukur ?.. Mungkinkah karena yang di bawah ini..?
- Hobi membanding-bandingkan diri sendiri dgn orang lain membuat kadar bersyukur seseorang menjadi terkikis.
" idih...kerja selama bertahun-tahun kk masih gini2 aja sih, pdhal dia anak baru kemaren sore sudah dapat posisi wuenak..."
- Kebiasaan bersaing secara tidak sehat alias iri hati juga bertanggung jawab atas kurang bersyukurnya manusia.
- Atau barangkali karena selalu merasa tidak puas atas apa yang telah diperolehnya.

Ah, andai saja semua orang mudah mengucapkan syukur, tentu tidak akan ada iri dengki, saling mencelakai, atau berlomba memperkaya diri demi memperoleh kepuasan sendiri. Dan duniapun akan sepi dari isu orang2 penting yang beritanya sangat tidak penting.

How lucky you are ....as always...
Duh...kata-kata itu kembali terngiang, tapi kali ini aku benar-benar menyadari bahwa aku memang sungguh orang beruntung.
Terimakasih ya Allah atas segala karunia yang telah Engkau berikan kepadaku. Berilah aku kesempatan untuk selalu bersujud syukur keharibaanMu dalam setiap helaan nafasku. Amien.

1 comment:

eshape waskita said...

Semoga kita selalu menjadi hambaNya yang pandai bersyukur ya Bu.

Salam buat pak Dhe RDP ya Bu.