Wik en kemaren kali kedua rombongan gambus yang dikelola oleh Ki Jogelem diasisteni Nyi Laras berkunjung ke pantai timur daerah Kuantan. Bukan...bukan diundang manggung, cuma pengen nyelonjorin kaki dipinggir pantai bersantai, bermain pasir dan mandi di laut. iii...Yess!!....tapi panas bo', makanya sore hari adalah waktu paling tepat untuk meluncur di gulungan riak-riak ombak sambil mengusek-usekkan kaki kedalam pasir yang terasa menggelitik.
Sebenarnya perjalanan dari KL ke Kuantan bisa di lakukan dalam waktu cukup singkat kurang lebih 2.5-3 jam saja karena cuma berjarak 200an km, bahkan bisa lebih cepat kalau gas ditekan agak lebih dalam. Tapi di MY mana bisa ngebut kalau patuh terhadap kecepatan maksimal yang ditetapkan. Padahal jalanan halus mulus dan tidak banyak kendaraan beredar, yah tentusaja keadaan ini sangat menggoda pengemudi untuk ngebut karena tidak sabar untuk segera sampai tujuan.
Mau nekat nyetir berkecepatan tinggi serasa menjadi pembalap disirkuit Sepang ?.. nggak disemprit pak polisi kok...tapi emang berani? Selain bahaya kecelakaan mengancam isi dompetpun bisa2 bakalan melayang. Sumon alias saman bin denda karena melebihi kecepatan yg telah ditetapkan mahal bo' 300RM, lha kalau pulang balik kena saman ?...waaa...bisa bangkrut!!
Jadi harap diperhatikan jika ada plang batas kecepatan yg diperbolehkan karena camera selalu mengintai kendaraan anda dan..jeprett..kemungkinan anda akan mendapatkan surat cinta dari DLLAJR yg isinya tagihan denda karena melanggar batas kecepatan maksimum...duh blaik!!
Dulu sewaktu belum ngeh trus sok keminter...wong jalanan sepi pengendara kok pada santai ...Makanya dengan PeDe pedal gas digenjot...wuuiiiing....!! Tapi meski sekarang sudah paham, kenapa masih kena denda juga ?....hh dasar kaki nggak bisa kompromi...nggak tahu apa kalau tangan ini jadi tambah kerjaan dengan merogoh kocek lebih dalam lagi.
Meski begitu masih mending didenda daripada ditilang pak polisi di Indo, kaget bo' disemprit pak polisi.....
Nglanggar lalin kesemprit, salah jalan kesemprit tapi abis itu bisa cincai...tawar menawar harus bayar berapa beres...wah..bikin wibawa pak pol jadi berkurang ah!! Jadi tak heran kalau akhirnya pengendara gak kapok melakukan pelanggaran berulangkali karena pikirnya asal ada uang urusan lancar.
"Abis repot sii..pakai sidang segala, ngabisin waktu.... lebih praktis bayar ditempat kan...?"..
Di MY bayar denda pelanggaran lalin hingga salah parkir atau nggak bayar parkir bisa dilakukan di kantor pos sambil ngantri bayar listrik, ledeng dan telepon. Tanpa ada kongkalikong atau cincai bin kasak kusuk denda juga bisa dikorting hingga 50 % jika bayar di kantor pusatnya. Enak kan? tanpa deg2an karena disemprit pak polisi...priitt!! Tinggal menunggu surat cinta melayang kerumah atau terjepit diantara kaca depan dan wiper...
Bisa nggak ya negaraku seperti itu?
Dengan begitu dana2 semacam ini pastinya akan langsung masuk ketempat yang tepat bukan bersliweran ke segala penjuru...